Tuhan, aku sudah melihatnya jatuh cinta dengan orang lain, aku pun sudah menyaksikan ia bahagia dalam dekatan lelaki lain.
Lalu pantaskah aku bertanya; mengapa aku tak mampu jatuh cinta juga kepada orang setelahnya? Aku kerap menemukan yang jauh lebih baik daripadanya, namun mengapa jika bukan dirinya aku tak bahagia?
Di saat hati terlalu lama menemukan pulihnya, mengapa semesta begitu tega menghapus aku dalam ingatannya? Tak layak 'kah ketulusan ini dihargai? Aku masih tertatih, membuang banyak waktu untuk benar-benar menghentikan segalanya. Namun sekali lagi, mengapa pada dirinya; bagian kecil dari diriku-tak tertinggal walau hanya nama?
Aku tidak sembuh, aku hanya memaksa sembuh. Aku dengan luka ini, mencoba menunjukkan padanya; bahwa telah kuselesaikan perihal kami selamanya. Meski kenyataan aku sadar, sebaik apapun membalut luka dengan tawa; pedih ini tetap meleburkan aku menjadi tak berguna.